Danlanal Melonguane Beri Himbauan Tentang Keselamatan Melaut Kepada Masyarakat Talaud

Koarmada II. MELONGUANE (18/5/2020) Menyikapi adanya beberapa kejadian kecelakaan di laut berupa nelayan yang hilang saat melakukan pelayaran, maka melalui media ini Danlanal Melonguane selaku salah satu pimpinan instansi terkait kelautan/kemaritiman di Kabupaten Kepulauan Talaud memberikan himbauan kepada seluruh pengguna laut agar lebih memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan saat melakukan aktivitas di/melalui laut.

Pasca memimpin langsung kegiatan SAR nelayan Desa Matahit pada Minggu malam tanggal 17 Mei 2020 kemarin Danlanal Melonguane juga telah memberikan pengarahan kepada masyarakat Desa Matahit agar apabila terjadi kecelakaan di laut, maka masyarakat atau keluarga yang mengetahui informasi kejadian tersebut agar segera melaporkan kepada instansi terkait dan terdekat di wilayah tersebut. Kecepatan dalam memberikan laporan dan atau penyampaian informasi terkait kejadian atau kecelakaan di laut adalah hal yang sangat penting, ujar Perwira Korps Marinir yang sangat mencintai dunia kemaritiman ini. Mengapa harus cepat, karena hal tersebut berkaitan dengan nyawa atau keselamatan korban. Semakin lama korban berada di laut, maka semakin tinggi resikonya, apalagi apabila kondisi alam dan cuaca tidak mendukung atau ekstrem.

Dalam kesempatan ini, Danlanal Melonguane juga menghimbau agar para pengguna laut, baik itu kepada seluruh nelayan di Kabupaten Kep. Talaud maupun kepada penyedia jasa angkutan penumpang dan barang via laut laut dari/menuju ke berbagai pelabuhan di Kabupaten Kep. Talaud agar benar-benar memperhatikan keamanan dan keselamatan serta mematuhi berbagai peraturan perundang-undangan terkait. Ia masih menyayangkan masih terdapatkan kapal angkut penumpang dan barang yang masih belum menggunakan dan menyalakan AIS (Automatic Identification System) padahal peraturan mengenai hal tersebut telah diterbitkan, adanya pengangkutan barang/penumpang yang terindikasi melebihi kapasitas, serta hal-hal lainnya terutama yang berkaitan dengan keselamatan pelayaran.

Danlanal Melonguane merasa senang dikarenakan para nelayan atau penumpang angkutan kapal antar pulau yang beberapa hari ini dikabarkan hilang semua selamat, baik empat nelayan dari desa Matahit maupun dua nelayan Melonguane Timur yang berlayar dari Miangas dan sandar darurat di Matutuang Marore saat hendak berlayar ke Kakorotan. Namun demikian, ia tetap menekankan agar para nelayan tradisional tersebut benar-benar memperhatikan faktor alam/cuaca, mengecek kondisi kapal beserta peralatan navigasi dan perlengkapan keselamatan saat hendak melakukan aktivitas di/melalui laut. Bagi para nelayan tradisional yang tidak dilengkapi peralatan navigasi yang canggih (GPS) melainkan hanya kompas, ia menganjurkan agar nelayan menggunakan metode penentuan posisi sederhana yaitu metode reseksi untuk menentukan posisi sendiri dan interseksi untuk menentukan posisi suatu objek. Metode reseksi untuk menentukan estimasi posisi sendiri saat di tengah laut akan sangat berguna bagi kapal nelayan tradisional yang hanya dilengkapi kompas apabila ingin memberikan informasi posisinya ke pada pihak/instansi yang sedang melakukan pencarian. Caranya adalah dengan mengompas (mengukur baringan/sudut kompas lebih dari satu titik objek di darat terutama objek-objek yang terdapat/tergambar di peta seperti menara suar, ujung-ujung pulau/tanjung, dll. Dengan berdasarkan informasi baringan sudut baringan dari objek-objek tersebut, maka pihak yang berada di darat (yang akan melakukan SAR) dapat mengetahui estimasi posisi mereka dari gambar perpotongan garis-garis back azimut (kebalikan arah) sudut kompas yang diberikan. Dengan diketahui posisi estimasi tersebut, maka area pencarian (SAR) terhadap nelayan tersebut tidak akan luas dibanding apabila informasi yang diberikan hanya baringan satu objek di darat sebagai mana yang sering digunakan oleh nelayan tradisional selama ini.

Dalam kurun waktu kedepan, Danlanal Melonguane beserta jajarannya akan lebih mengintensifkan penyuluhan terhadap para nelayan tradisional maupun bagi para pengguna laut lainnya. Cara-cara persuasif tersebut juga akan ditingkatkan menjadi cara represif yaitu berupa penegakan hukum di laut bagi para pengguna laut yang telah berulang kali dihimbau namun tidak mematuhi ketentuan peraturan hukum yang berlaku.