LANAL BALIKPAPAN EVAKUASI TERHADAP NELAYAN WNA PHILIPINA YANG HANYUT TERBAWA ARUS

TARAKAN:- Pada hari Selasa (03/03/20) Lanal Balikpapan melaksanakan evakuasi terhadap nelayan WNA Philipina yang hanyut terbawa arus laut di wilayah sekitar FPU (Floating Production Unit) PT. Eni Muara Bakau selat Makassar atas nama Lindon Ausa, umur dua puluh dua tahun, jenis kelamin laki-laki, warga negara Philipina, alamat Kota Gensan City, provinsi Davao Occidental, negara Philipina dengan menggunakan kapal Meo Monarch 2 milik PT. Eni Muara Bakau.

Hanyutnya WNA Philipina tersebut pertama kali diketahui oleh bapak Mulyana karyawan FPU Jangkrik PT. Eni Muara Bakau, pada pukul 13.45 Wita yang melihat sebuah kapal pancing sejenis ketinting terdapat satu orang minta tolong dengan melambaikan bendera pada jarak 1.90 Nm. Kemudian FPU Jangkrik menghubungi MEO. Monarch 2 untuk melakukan evakuasi. Personel Lanal Balikpapan yang melaksanakan Pam Obvit di PT. Eni Muara Bakau selanjutnya melaporkan kejadian tersebut ke Lanal Balikpapan.
Sekira pukul 14.00 Wita MEO. Monarch 2 pada posisi 01°17′ 85″ S -117°38’56” E, halu 350 pada jarak dari FPU Jangkrik/Telford 25 = 1.90 Nm berhasil mendekati korban, selanjutnya korban dinaikkan ke MEO. Monarch 2 dan dibawa menuju dermaga Semayang Balikpapan untuk melaksanakan pemeriksaan lebih lanjut.

Rabu, (04/03/20) sekira pukul 07.00 wita MEO. Monarch 2 sandar di Pelabuhan Semayang, selanjutnya dilaksanakan wawancara dan pemeriksaan kesehatan oleh Tim Medis Lanal Balikpapan, KKP Balikpapan dan pihak imigrasi Kota Balikpapan di MEO. Monarch 2 terhadap WNA Philipina tersebut.
Hasil pemeriksaan kesehatan oleh Tim Medis Lanal Balikpapan dan KKP Balikpapan diketahui bahwa korban dalam kondisi stabil, tidak terindikasi terjangkit virus Corona COVID – 19, suhu badan 36.8 derajat celcius, SPO 2 : 98 %, tensi 120/80, pemeriksaan fisik paru – paru dalam baik.
Sedangkan hasil wawancara, korban merupakan seorang nelayan pancing dari negara Philipina yang hayut sampai ke wilayah perairan selat Makassar karena perahunya mengalami trouble yang patah As Propelernya. Korban kurang lebih 2 minggu terapung dilaut tanpa bahan makanan dan hanya mengandalkan air hujan yang ditampung untuk minum.
Menurut yang bersangkutan sejak berangkat melaut, korban hanya pergi seorang diri dan tidak pernah bertemu dengan nelayan lain baik selama perjalanan maupun saat mengalami trouble mesin.

Sebagai tindak lanjut, Lanal Balikpapan melakukan koordinasi dengan pihak Imigrasi dan diputuskan bahwa korban akan dikarantina selama 14 hari oleh pihak Imigrasi untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan yang bersangkutan dan Lanal akan terus memantau perkembangan terhadap penanganan korban selama karantina hingga dilaksanakan deportasi.
Sedangkan dari pihak Imigrasi, apabila dalam masa karantina ditemukan perubahan kondisi kesehatan maka akan melaporkan lebih lanjut kepada pihak KKP Balikpapan dan Dinas kesehatan Kota Balikpapan.
Pada Saat ditemukan, korban sama sekali tidak memiliki indentitas apapun dan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi karena faktor bahasa sedangkan perahu yang digunakan ditinggal begitu saja karena kondisi sudah mulai mengalami kebocoran.

Terkait keterlibatan dengan kelompok Abu Sayyap Grup (ASG) bahwa informasi dari Satgas Intelijen yang berada di Philipina (ILO Philipina) data asal kota korban (Gensan City), belum ditemukan adanya indikasi yang bersangkutan terlibat dengan kelompok tersebut.

Dispen Lantamal XIII Koarmada II.