Aksi Simpatik Dari PT. Indonesia Power Bali di Mako Lanal Denpasar Peringati Hari AIDS Sedunia

Aksi Simpatik Dari PT. Indonesia Power Bali di Mako Lanal Denpasar Peringati Hari AIDS Sedunia

Lantamal V (03/12), —

Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember merupakan suatu peringatan tentang bahayanya penyakit AIDS juga sebagai peringatan untuk lebih berhati-hati dalam bertindak untuk terhindar dari penyakit tersebut serta sebagai hari kemanusiaan untuk menghargai orang yang mengidap penyakit tersebut.

Dengan memperingati Hari AIDS Sedunia tersebut, sejumlah elemen masyarakat dari PT. Indonesia Power UP. Bali melakukan aksi simpatik dengan membagi bagi bunga, Senin (03/12).

Aksi yang dilakukan oleh PT. Indonesia Power UP. Bali  tersebut di Jalan Raya Sesetan 331 tepatnya di Mako Pangkalan TNI AL Denpasar Bali, dengan membagi bagikan bunga terhadap para Prajurit Pangkalan TNI AL Denpasar yang dipimpin oleh I Wayan Sukarena dari PT. Indonesia Power UP. Bali.

Aksi damai di Mako Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar tersebut diterima oleh Kapten Laut (P) Aria Bravita mewakili Komandan Lanal Denpasar didampingi oleh Kepala Balai Kesehatan (BK) Lanal Denpasar Lettu Laut (K/W) I Gusti Ayu Meilani.

Menurut Sukarena, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia cenderung meningkat. Maka dari itu Indonesia Power salah satu Badan Usaha Milik Negara tergerak punya kewajiban untuk mengkampanyekan bahwa penyakit Aids adalah penyakit yangsangat berbahaya dan sampai saat ini belum ada obatnya maka dari itu kita sebagai bagian dari masyarakat bertanggung jawab dan bisa mencegah merebaknya penyebaran penyakit tersebut dengan mengajak masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat.

Lebih jauh Sukarena menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah merupakan program dari Indonesia Power tentang kepedulian terhadap masyarakat disamping kegiatan sosial lainnya. Dan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi Bali sendiri, telah memberikan kesadaran sekaligus pemahaman kepada masyarakat jika para penderita HIV/AIDS tidak boleh dikucilkan atau dijauhi. Di samping itu penderita harus mendapatkan pendampingan.

“ODHA ini tidak harus dijauhi, tetapi tetap didekati. Jika memang ditemukan penderitanya maka harus didampingi, agar mau melakukan pengobatan,” imbuh Sukarena.

Namun kegiatan tersebut intinya bahwa HIV/AIDS sudah menjadi salah satu masalah di masyarakat terutama di Bali yang dipengaruhi oleh prilaku yang tidak sehat, namun hal tersebut juga tersimpan harapan agar anak muda tidak ada lagi yang terinfeksi HIV/AIDS dan menghimbau setiap pribadi serta penyedia kesehatan melaksanakan pelayanan kepada pengidap HIV/AIDS kemudian mengajak masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat.